Sabtu, 31 Mei 2014

Sekilas Riwayat Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi


Sekilas Riwayat Al-Imam
 Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi

1.      Masa Kecil Hingga Dewasa
Nama lengkap Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sebuah nama pemberian  Sayyid Abdullah bin Husein bin Thahir untuk yang mengambil berkah dari Sayyidina Ali bin Alwi Khali’ Qasam. Beliau lahir di desa Qasam, desa yang penuh cahaya positif. Ibunda beliau adalah Sayyidah Shalihah, ‘Arifah billah Da’iya Ilallah ‘Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Ibunda Habib Ali lahir berasal dari kota Syibam tahun 1240 H. Ayah Habib Ali bernama Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, seorang yang sangat gemar berdakwah. Ayah Habib Ali lahir di kota seiwun pada tahun 1213 H.
Hari-hari Habib Ali berlalu dalam curahan kasih sayang orang tuanya yang berselimutkan Ilmu-ilmu mulia. Hingga mencapai dewasa, jiwanya telah dipenuhi cahay Qur’an. Ketika Habib Ali berusia 7 Tahun, ayahnya hijrah ke kota Mekkah. Ayah beliau menyerahkan kuasanya kepada ibunya Hababah ‘Alawiyah binti Husein Al-Jufri.
Habib Ali hijrah ke seiwun pada usia 11 tahun. Ia hijrah bersama ibundanya. Habib Ali pindah ke seiwun bermaksud untuk memperdalam ilmu Fiqih dan ilmu lainnya. Mengenaia kota Seiwun ini, Habib Ali berkata : Seiwun memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain. Demi mewujudkan keinginan Ayahnya.Pada usia 17 tahun,
Habib Ali pergi ke Mekkah. Ia tinggal disana bersama ayahnya selama dua thun yang penuh berkah. Setelah itu ia kembali ke Seiwun, sebagai seorang alim dan ahli dalam pendidikan, Ketika berusia 22 Tahun, Habib Ali ditinggal oleh Habib Muhammad Al-Habsyi selaku ayah kandungnya.
2.      Nasab Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi
Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Syeikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Shihab Asy-Syi’ib bin Muhammad Asghar bin Alwi bin Abu Bakar Al-Habsyi bin Ali bin Ahmadbin Muhammad bin Asadullah bin Hasan At-Turabi bin Ali bn Al-faqih Muqaddan Muhammad bin Ali biin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Muhajjir Ahmad bin Isa bin Muhammad Nagib bin Ali Uraidhi bin Ja’far Ash-shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah Az-zahra bin Nabi Muhammad SAW.
3.      Sosok Habib Ali
Beliau berkulit sawo matang diliputi cahaya. Perawakannya tinggi besar, kekar berdada bidang dan perutnya kecil. Wajahnya bulat berisi, berdahi lebar dan berjanggut pendek. Cambang beliau sedikit pendek. Orang yang mengenal beliau pasti mengetahui bahwa beliau sangat menyukai lagu-lagu dan irama sama’. Suara seruling, terbang dan kendang menyenangkan hatinya. Beliau seperti seorang sufi yang memiliki cita rasa.


4.      Wafatnya Hababah Alawiyah (Ibunda Habib Ali)
Pada tangga; 6 Rabi’ust Tsani 1309 H. Ibunya yang shalihah , ‘Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri meninggal dunia. Ini merupakan suatu pukulan buat Habib Ali, tapi Habib Ali tidak mau larut dalam kesedihan begitu saja. Mengenai ibunya yang shallihah ini, Habib Ali pernah berkata : Andaikan ada yang menyusun biografi ibuku, beliau mempunyai karamah yang agung dari Allah SWT. Begitu pula ayaku Muhammad bin Husein, beliau sering mengkasyaf isi hatiku.
5.      Akhlaknya Habib Ali
Beliau sosok yang tidak suka dengan ketenaran. Sejak kecil tidak pernah menurutkan hawa nafsunya. Kadang kala mendengar ucapan yang membenci beliau, Habib Ali mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan memperbaiki kesalahan merekan. Habib Ali lebih menyukai sendiri, untuk dekat dengan Allah SWT.
Suatu ketika Habib Ali berziarah ke Tarim, beliau bermaksud tidak memberi kabar kesiapapun. Namun, belum sampai Habib Ali ke Tarim. Tarim telah dibanjiri lautan manusia tanpa ada yang mengundangnya. Beliau yakin semua ini kehendak Allah SWT dan ridho Allah SWT. Dan Allah bermaksud untuk memenuhi hajat mereka yang hadir.
Setiap harinya di kediaman Habib Ali, ribuan tamu hadir untuk  penuh cahaya itu. Meskipun Habib Ali tidak ingin tenar, akan tetapi namanya telah tersebat keseluruh penjuru benua pada saat itu. Habib Ali pernah berkata : Dakwah ku tersebar keseluruh wujud. Maulidku ini akan tersebar ditengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah dan membuat mereka dicintai Nabi SAW. Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi Muhammad SAW.
6.      Wafat Habib Ali
Beberapa tahun sebelum wafatnya Habib Ali, beliau mengalami kehilangan penglihatan. Menjelang meningalnya beliau, tampak tanda-tanda selama 70 hari. Hingga 20 Rabius Tsani 1333 H, ruh mulia ini menuju Allah SWT dengan penuh nuansa Husnul Khatimah. Pada waktu asar keesokan harinya. Jenazah beliau diantarkan ke kubur dalam suatu iring-iringan yang tidak ada awal dan akhirnya.
Setelah shalat jenazah di masjid Riyadh yang diimami oleh anak sekaligus khalifah beliau, jenazah  beliau di kebumikan di sebelah barat masjid. Dalam sebuah wasiatnya, Habib Ali menunjuk Habib Muhammad sebagai khalifahnya. Mengenai Habib Muhammad ini, Habib Ali pernah berkata :
Kalian jangan mengkhawatirkan anakku Muhammad. Pada dirinya terdapat khilafah dzahir dan bathin. Semoga Allah menjadikan dia dan saudara-saudaranya penyejuk hati, semoga ia dapat memakmurkan ribat dan masjid riyadh dengan ilmu dan amal, semoga Allah jadikan mereka sebagai teladan dalam setiap kebajikan. Semoga Allah
Categories:

0 komentar:

Poskan Komentar