Sabtu, 23 Agustus 2014

Keras Kepala Yang Tidak Perlu


“I am who I am. Don’t try to change me. Take me as I am, or watch me as I go.”
“Aku adalah aku. Jangan coba-coba mengubahku. Terima aku apa adanya. Kalau tidak ya sudah.”
Mungkin kalimat ini ada benarnya. Tapi setelah menjalani hidup sepuluh tahun terakhir, jalan fikir seperti ini perlahan berubah.
Think about it.
Sept 26Kalau orang yang saya cintai sedang menghancurkan diri, apakah saya harus tinggal diam hanya karena saya tidak berhak “mengubah” dia? Atau ketika saya tahu saya telah melakukan kesalahan karena sifat dasar saya yang kurang berkenan bagi orang lain, apakah kemudian saya tidak berusaha untuk merubah diri agar jadi lebih baik?
Hidup itu proses evolusi, terus berevolusi menjadi lebih baik — baik bagi orang lain dan tentunya baik bagi kita sendiri. Biasanya proses evolusi ini akan lebih mudah ketika kita benar benar mencintai diri kita sendiri dan orang lain.
Mungkin bagi sebagian orang, ini terdengar klise dan sekedar retorika. Tidak demikian bagi saya. Dua per tiga perjalanan hidup saya tidak mudah. Banyak kecewa, sakit hati, tidak percaya karena satu dan lain hal. Di masa lalu, jika saya mau hancurkan diri dalam dunia kelam pun bisa. Namun meski perjalanan berkerikil, darah dan luka di telapak kaki mungkin memperlambat langkah, namun tak pernah hentikan langkah untuk keluar dari yang kelam. Mungkin karena saya terlalu sayang pada hidup ini yang hanya kita terima satu kali. Mungkin juga saya terlalu cinta pada orang-orang terkasih dan tak pernah mau kehilangan mereka hanya karena keras kepala yang tidak perlu.

Sumber : @MarissaAnita
Categories:

0 komentar:

Poskan Komentar